Mutiaramedia.com. Serang Banten- Ruang kreatif yang berfokus pada seni, budaya, dan komunitas kreatif di Banten, resmi meluncurkan program baru bertajuk “Teras Kultur” pada Sabtu, 29 November 2025. Gelaran perdana program ini menampilkan pemutaran film Leuit Sang Alang, karya terbaru sutradara muda Banten, Darwin Mahesa. Acara ini juga diisi dengan sesi diskusi dan berbagi pengalaman bersama Darwin serta pemerhati budaya, Sulaiman Djaya.
Owner Teras Bamboo, Friska Lintang, menegaskan bahwa ruang ini bukan hanya sekadar tempat nongkrong, melainkan wadah ekspresi, kolaborasi, dan pengembangan talenta muda di bidang seni dan budaya.
“Kami ingin Teras Bamboo menjadi rumah bagi industri kreatif dan komunitas anak muda, tempat tumbuhnya ide-ide baru dan karya-karya yang mendukung keberagaman budaya,” ujar Friska saat kegiatan berlangsung.
Ia menyampaikan, Teras Bamboo berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang mengangkat kreativitas dan kebudayaan lokal, serta menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkolaborasi dan berkarya. Pada kesempatan ini, Friska juga memberikan apresiasi kepada Kremov Pictures dan seluruh pembuat film lokal yang terus berupaya mengangkat budaya Banten melalui karya-karya mereka.
Mengupas Film Leuit Sang Alang yang Meningkatkan Narasi Budaya Banten
Film Leuit Sang Alang adalah drama budaya yang diproduksi oleh Kremov Pictures bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Film ini dibintangi oleh Felicia Caroline, Cipta Kesuma, dan Aris Kurniawan, dan diproduksi di wilayah adat Kasepuhan Banten Kidul. Dalam sesi berbagi pengalaman, sutradara Darwin Mahesa mengungkapkan bahwa riset untuk film ini dimulai sejak 2020, ketika ia masih menggarap film Saijah dan Adinda. Melalui kunjungannya ke Kasepuhan Cipta Gelar, Darwin menemukan banyak nilai budaya yang masih dijaga dengan erat oleh masyarakat adat, mulai dari cara berpakaian hingga tradisi seren taun.
Proses produksi Leuit Sang Alang dilakukan dengan pendekatan yang sangat mendalam, bekerja sama dengan Ketua Adat setempat agar seluruh proses syuting mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Darwin juga bercerita tentang perjalanan panjangnya dalam dunia perfilman, yang dimulai dengan membuat film menggunakan ponsel berformat 3GP saat masih di SMK, hingga kini telah menghasilkan 35 film bertemakan kebudayaan.
“Film adalah cara kami mendekatkan budaya kepada generasi muda. Visual adalah media yang mereka konsumsi,” jelas Darwin.
Sulaiman Djaya: Kerja Budaya Harus Terus Dipupuk
Dalam acara tersebut, Sulaiman Djaya, seorang pemerhati budaya dan sastrawan, memberikan apresiasi tinggi atas kualitas naratif dan sinematografi Leuit Sang Alang. Menurutnya, film ini adalah lompatan besar bagi Darwin dalam hal cerita dan eksekusi. Sulaiman juga menekankan pentingnya regenerasi dan transformasi tradisi melalui media, dengan mengatakan bahwa film menjadi alat komunikasi yang efektif untuk berbagi pengetahuan dan menjaga tradisi agar tetap hidup.
“Kerja seni dan budaya membutuhkan ekosistem yang saling memotivasi. Ia percaya, ruang seperti Teras Bamboo akan menjadi titik pertemuan yang memperkuat komunitas kreatif dan membantu melestarikan tradisi berkesenian.” ujarnya.
Teras Kultur: Ruang Kreatif untuk Ide-Ide Baru
Teras Bamboo dengan program Teras Kulturnya dapat terus mempertemukan berbagai komunitas kreatif, seperti film, musik, teater, sastra, dan budaya tradisi. Darwin Mahesa menambahkan bahwa acara seperti ini bukan hanya tentang menonton dan berdiskusi, tetapi juga tentang melahirkan ide-ide baru dan jejaring yang saling menguatkan.
Pemutaran film Leuit Sang Alang dalam Teras Kultur Episode 1 ini menandai dimulainya rangkaian acara berkala yang akan digelar Teras Bamboo di masa depan, untuk memperkuat ekosistem kreatif di Banten dan menjadi wadah bagi komunitas seni dan budaya di daerah tersebut.
“Asalkan kita konsisten, dari ruang seperti ini akan lahir ide dan karya-karya baru,” katanya.
Kolaborasi Kremov Pictures, Teras Bamboo, dan Vien Studio
Acara Teras Kultur Episode 1 ini dipandu oleh Gareendra Rizky, pendiri Vien Studio, dan dihadiri oleh dua narasumber utama, yakni Darwin Mahesa (CEO Kremov Pictures) dan Sulaiman Djaya (penulis dan sastrawan). Kolaborasi ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan seni dan budaya di Banten, serta mempererat hubungan antar komunitas kreatif di wilayah tersebut.
Melalui program Teras Kultur, Teras Bamboo berharap dapat terus mendorong kolaborasi baru, memperluas jaringan komunitas kreatif, dan membuka peluang bagi para seniman muda untuk terus berkarya dan mengembangkan potensinya.
Sekilas Tentang Festival Film Banten (FFBAN)
Festival Film Banten (FFBAN) adalah ajang apresiasi bagi sineas muda Banten dan nasional, yang diselenggarakan oleh Kremov Pictures bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten. Festival ini telah rutin digelar sejak 2017 dan membuka tiga kategori utama: Pelajar, Mahasiswa, dan Umum Nasional. FFBAN sering mengangkat tema budaya dan sejarah lokal, dan pada tahun 2025 mengusung tema “Warisan Leluhur: Menjaga Ingatan, Menghidupkan Budaya”.
FFBAN juga menjadi ruang belajar dan kompetisi bagi sineas muda serta komunitas film untuk berpartisipasi dan mempublikasikan karya mereka. (ROMZI).












